Tentang Film
A. Official Media Release
Isu korupsi bukanlah isu yang baru dikenal di kalangan masyarakat. Namun ironisnya, meski beragam upaya dan wacana terus dilangsungkan untuk memerangi korupsi, praktik korupsi tetap berlangsung bahkan ada indikasi meningkat. Para penindak korupsi seperti KPK, kerap menghadapi situasi dilematis akibat masih ada keengganan sejumlah pihak untuk menghentikan atau menindak pelaku korupsi secara tegas. Padahal, publik sendiri telah jeri dan punya sikap penolakan yang jelas-karena termasuk pihak yang paling dirugikan akibat merebaknya korupsi.
Korupsi sudah tidak bisa lagi ditindak melalui beragam anjuran atau himbauan. Untuk bisa mengurangi angka korupsi perlu ada strategi baru dalam menghimpun kekuatan massa, tak lain dengan meyakinkan publik sekaranglah saatnya publik selaku warga/orang ‘biasa’, yang jumlahnya justru mayoritas dari bangsa Indonesia-untuk memberdayakan diri dan mulai lebih pro aktif untuk menghentikan mata rantai korupsi.
Perang melawan korupsi harus diawali dari diri sendiri (baca: setiap orang ‘biasa’ di Indonesia). Bekal untuk peperangan itu bisa bermula dari rumah dan dilanjutkan di ruang-ruang belajar seperti sekolah dan pergaulan sehari-hari. Karena selama ini pembahasan mengenai korupsi berikut cara penangkalannya masih terasa normatif dan penuh dengan kata-kata atau terminologi/istilah ‘besar’, kali ini strategi yang digunakan justru sebaliknya-mengurai korupsi dari beragam hal keseharian yang selama ini tanpa disadari telah ikut melanggengkan praktik korupsi. Misalnya, standar ganda saat seseorang berhadapan dengan kekisruhan birokrasi yang membuatnya mengamini menggunakan jasa orang ketiga, atau pembenaran saat menaikkan harga jual sebuah benda yang sebetulnya bisa membuat pelakunya ‘kebablasan’ menjadi koruptor kelas kakap, dan lain-lain. Bila selama ini publik terbiasa diam, dan ‘memaklumi’ praktik korupsi di sekitarnya kemudian menggantungkan harapan pada segilintir aparat hukum/KPK untuk menindaki korupsi, masa itu harusnya berakhir sekarang. Ringkasnya, siapapun yang ingin menghentikan korupsi harus mengawalinya dari diri sendiri.
Oleh karenanya, isu korupsi bukan lagi seharusnya disikapi publik (kita) sebagai sesuatu yang diketahui ada dan bisa ‘diterima’(mereka/pelaku korupsi/koruptor)-sehingga yang selama ini terjadi adalah Kita DAN Korupsi. Melainkan harus diarahkan menjadi Kita VERSUS Korupsi.
Berdasar pada pemikiran tersebut, omnibus empat film pendek ini dibuat, sebagai sebuah bentuk kampanye anti korupsi melalui media pop culture dengan isu sehari-hari, berkaitan dengan nilai-nilai mendasar yang dimulai dari keluarga, yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat. Masing-masing film menyajikan satu cerita yang menggambarkan keseharian serta di mana atau kapan saatnya virus korupsi bisa mulai menelusup ke dalam kehidupan seseorang. Empat film ini bergenre drama dan dikemas untuk bisa dipahami penonton Indonesia dari beragam kalangan usia dan latar budaya. Efek yang diharapkan setelah menonton film-film ini adalah publik bisa melihat potret kedekatan dirinya dengan asal muasal korupsi dan bagaimana ia bisa menghentikan mata rantai korupsi sebelum praktik korupsi mewabah.
Film yang dirilis secara non komersial ini merupakan produksi bersama Transparency International Indonesia, Komisi Pemberantasan Korupsi, Management Systems International, USAID, dan Cangkir Kopi. Pemutaran film dalam rangka kampanye akan dilakukan oleh institusi Transparency International Indonesia dan permohonaan pemutaran film ini dapat dilakukan dengan menghubungi institusi Transparency International Indonesia.
B. Synopsis
Film 1: Rumah Perkara (Film by Emil Heradi)
Film ini bercerita tentang seorang lurah (Pak Yatna) yang harus memilih antara mempertahankan tanah warga atau ikut membantu penggusuran demi sebuah proyek real eastate. Sang pengusaha, yang telah mengeluarkan banyak dana untuk menggolkan proyek ini. Tinggal sebuah rumah janda yang jadi penghalang.
Sang lurah rupanya telah lama memperoleh sokongan pengusaha itu sehingga sang pengusaha berharap mudah menaklukkannya. Namun di lain pihak sang lurah juga memiliki hubungan gelap dengan si janda. Sang lurah kesulitan untuk mengusirnya, diiringin kekhawatiran hubungan mereka terungkap.
Dihadapkan pada nasib kampungnya, janjinya kepada keluarga dan warganya untuk menjadi pemimpin yang melindungi, Yatna harus bisa mengambil keputusan antara mendukung penggusuran atau melawannya.
Film 2: Aku Padamu (Lasja F. Susatyo)
Dua sejoli bertekad mengikat sumpah setia mengikat janji di hadapan Tuhan. Namun dihadapkan pada keterbatasan waktu dan syarat-syarat administrasi yang rumit, sang calon mempelai laki-laki memutuskan untuk menyuap petugas KUA untuk memperlancar urusan.
Teringat dengan masa kecilnya, sang calon mempelai perempuan menolak melakukan suap. Ia sangat mengidolakan gurunya (pak Markoen) di SD kampunya dulu. Namun, entah mengapa sang guru tidak juga diangkat menjadi guru tetap. Belakangan ia tahu Ayahnya yang membuang lamaran guru Markoen karena tak menyisipkan amplop dalam berkas-berkasnya. Kegusaran terhadap figur ayah korup membuatnya enggan untuk meminta restu untuk menikah dari ayahnya.
Kedua sejoli ini pun berdebat. Bagaimana mungkin menikah di hadapan Tuhan yang suci, dimulai dengan menyuap Tuhan?
Film 3: Selamat Siang Rissa (Film by Ine Febriyanti)
Bercerita tentang Rissa Arwoko, pejabat bagian pengadaan proyek diminta meloloskan proyek pembangunan mall. Tentu dengan imbal balik yang sudah pasti di depan mata. Dengan kewenangannya, ia bisa saja memberi persetujuan dengan mudah.
Dalam dilema moral itu, Rissa lalu teringat dengan kegigihan ayahnya untuk menjaga amanah meskipun dalam situasi keluarga yang sedang buruk. Saat itu, seorang pengusaha mencoba menyuap Arwoko, ayah Rissa, agar bisa menggunakan gudang perusahaan BUMN yang berada di bawah penjagaan Arwoko. Sang ayah bersikeras menolak meskipun saat itu ia sangat membutuhkan dana untuk pengobatan anaknya yang sedang sakit keras.
Rissa adalah wanita dewasa yang kariernya sedang menanjak. Gaya dan kebutuhan (untuk bisnis dan hidup) di Jakarta tidak murah. Dihadapkan pada pilihan-pilihan ini, Rissa harus memilih antara menolak atau berdamai dengan kejahatan.
Film 4: Pssttt… jangan bilang siapa-siapa! (Film by Chaerun Nissa)
Bercerita tentang gaya hidup dan permisivitas terhadap praktik pemerasan di sekolah yang kemudian direkam oleh seorang siswa, Gita. Tersebut Olla (16th), anak SMA yang gaul, tokoh yang menjadi pintu masuk Gita dalam mengekspose situasi sekolahnya.
Untuk menjalani gaya hidupnya, Olla yang selalu up date dengan gadget dan fashion bersandar pada kelihaian menipu orang tua dengan cara me-mark-up setiap permintaan kebutuhan sekolah maupun jajan. Keluarganya tidak ambil pusing karena ayahnya di kantor, maupun ibunya di rumah biasa melakukan hal yang sama. Di sekolah, Olla dan teman-temannya tanpa sadar telah menjadi korban kepala sekolah dan guru yang memperdagangkan buku di sekolah. Siapapun yang tidak membeli buku yang telah di-mark-up akan celaka.
Melalui bermain-main gadget yang menjadi kesenangannya, Gita dan Olla bisa mengungkap banyak persoalan di sekitarnya.[CiB]






