<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Indonesia Bersih</title>
	<atom:link href="http://www.indonesiabersih.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.indonesiabersih.org</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 16 May 2013 03:53:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>Mural Anti Korupsi</title>
		<link>http://www.indonesiabersih.org/suara-kamu/mural-anti-korupsi/</link>
		<comments>http://www.indonesiabersih.org/suara-kamu/mural-anti-korupsi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 May 2013 03:46:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Suara Kamu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indonesiabersih.org/?p=2863</guid>
		<description><![CDATA[Merebaknya kasus korupsi di negeri ini menjadi realitas yang memedihkan hati. Pasalnya, pelaku tindak korupsi adalah orang-orang terdidik yang (semestinya) mengerti betapa merugikannya perilaku-perilaku koruptif. Bahkan, sebagai penganut suatu agama, mereka bukan tidak tahu mana halal dan mana haram. Hal ini menunjukkan masih miskinnya moralitas di tengah-tengah masyarakat-intelektual kita. Karena itulah, ‘Perang Suci Melawan Korupsi’ [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Merebaknya kasus korupsi di negeri ini menjadi realitas yang memedihkan hati. Pasalnya, pelaku tindak korupsi adalah orang-orang terdidik yang (semestinya) mengerti betapa merugikannya perilaku-perilaku koruptif. <span id="more-2863"></span>Bahkan, sebagai penganut suatu agama, mereka bukan tidak tahu mana halal dan mana haram. Hal ini menunjukkan masih miskinnya moralitas di tengah-tengah masyarakat-intelektual kita. Karena itulah, ‘Perang Suci Melawan Korupsi’ gagasan pelukis Aris Budiono Sadjad penting untuk terus dilaksanakan bersama.</p>
<p>Mural misalnya, bisa menjadi salah satu media pelaksanaan perang suci tersebut. Sebab pada dasarnya mural tidak semata menjadi wahana kreasi, tapi juga sebagai media penyampaian pesan. Apa yang dilakukan Komunitas Street Serrum dengan menjadikan mural sebagai senjata melawan jamur korupsi merupakan angin segar sekaligus fakta yang menarik. Bahwa ternyata upaya berbenah diri masih kuat di bangsa ini.</p>
<p>Pertanyaannya, sudah imbangkah upaya kita dengan penyakit ganas korupsi? Bila tidak, tunggu apa lagi, mari kita tingkatkan upaya-upaya kreatif membumihanguskan korupsi. Bagaimana caranya? Salah satunya melalui maksimalisasi peran mural dengan gambar-gambar atau kalimat-kalimat bermuatan moral. Paling tidak, mural bisa menjadi media pengingat bagi bangsa kita yang pelupa.</p>
<p>Sumber: <a href="http://notasikaha.blogspot.com/2013/05/mural-anti-korupsi.html">Notasikaha.nlogspot.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indonesiabersih.org/suara-kamu/mural-anti-korupsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Korupsi, Korupsi, Korupsi..!</title>
		<link>http://www.indonesiabersih.org/sorot/korupsi-korupsi-korupsi/</link>
		<comments>http://www.indonesiabersih.org/sorot/korupsi-korupsi-korupsi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 May 2013 03:41:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sorot]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indonesiabersih.org/?p=2859</guid>
		<description><![CDATA[Frans Sartono &#38; Putu Fajar Arcana ”Berkali-kali kata itu bergetar dengan hebatnya, baik di mulut maupun di hati: korupsi, korupsi, korupsi. Akhirnya teguhlah niatku untuk mengerjakannya juga. Berdengung kata itu: korupsi, korupsi, korupsi&#8230;.” Begitulah Pramoedya Ananta Toer menuliskan gemuruhnya nurani seseorang ketika untuk pertama kalinya melakukan kejahatan bernama korupsi dalam novel yang dibuat Pram tahun [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Frans Sartono &amp; Putu Fajar Arcana</strong></p>
<p>”Berkali-kali kata itu bergetar dengan hebatnya, baik di mulut maupun di hati: korupsi, korupsi, korupsi. Akhirnya teguhlah niatku untuk mengerjakannya juga. <span id="more-2859"></span>Berdengung kata itu: korupsi, korupsi, korupsi&#8230;.” Begitulah Pramoedya Ananta Toer menuliskan gemuruhnya nurani seseorang ketika untuk pertama kalinya melakukan kejahatan bernama korupsi dalam novel yang dibuat Pram tahun 1953 berjudul Korupsi.</p>
<p>Mengikuti cerita balada koruptor dalam novel Korupsi, kita seperti membaca realitas hari ini ketika koruptor dengan segala cara menyiasati diri hingga ia malah terkesan seperti melakukan sesuatu yang benar. Jauh hari sebelum korupsi sebiadab hari ini, Pram sudah membeberkan drama manusia yang dihadapkan pada godaan korupsi. Mari menikmati Korupsi, sambil melihat reality show para koruptor di negeri ini.</p>
<p>Pram dengan gayanya yang lugas, dingin, menggambarkan gejolak jiwa, hati nurani, seorang pegawai yang terombang-ambing dalam pilihan antara berlaku jujur atau korupsi. Godaan begitu hebat di lingkungan kerjanya. Kesempatan ada, lingkungan mendukung, tetapi ada masih sepotong kejujuran dalam nuraninya yang selalu mengingatkannya untuk tidak berlaku jahat.</p>
<p>”Banyak di antara kawan-kawan yang mujur dalam penghidupannya terkenang olehku. Dan akhirnya terniatlah dalam hati, seperti sudah jamak di masa kini: Korupsi,” tulis Pram.</p>
<p>Pram menggambarkan, korupsi bukan hal mudah untuk dimulai oleh seseorang yang sebelumnya menjalani hidup secara lurus, jujur. Namun, reputasi kejujuran yang bertahun-tahun tak terusik itu akhirnya luruh juga oleh gelegak hasrat untuk melakukan tindakan maling. ”Alangkah sakitnya di hati harus mengucapkan selamat tinggal kepada kebiasaan yang dilakukan tiap hari, tiap detik&#8230;.”</p>
<p>Akan tetapi, sang calon koruptor (yang akhirnya jadi koruptor), terus mencari pembenaran-pembenaran akan laku koruptifnya. Dengan begitu ia merasa tenang dan nyaman dalam berpesta korupsi:</p>
<p>”Orang lain berbuat begitu juga. Apa salahnya aku mulai mencoba-coba! Mereka bisa punya mobil, malah ada yang mendirikan rumah tiga buah dalam setahun, dan sekaligus pula. Mengapa tidak? Mereka hingga sekarang hidup senang, dan tak satu polisi pun bisa menangkap&#8230;.”</p>
<p>Ah, sungguh jauh penerawangan Pram puluhan tahun silam. Bukankah apa yang ia tulis itu terjadi hari ini. Sang calon koruptor kemudian dikisahkan oleh Pram telah memantapkan hati dan tekad untuk korupsi. Ia telah menemukan pembenaran untuk mengesahkan dirinya sebagai pahlawan, bukan koruptor. ”Tidak, (korupsi) itu bukan kejahatan, bukan pelanggaran—itu sudah selayaknya.”</p>
<p>Ck..ck..ck&#8230;! Bukan main&#8230;.</p>
<p><strong>Melawan dengan sastra</strong></p>
<p>Novel Pram menginspirasi Tahar Ben Jelloun, seorang penulis Perancis untuk menulis novel berjudul L’Homme rompu atau Korupsi tahun 1994. Jelloun sempat bertemu Pram tahun 1990 di Jakarta setelah membaca karya Pram. Jelloun berkisah tentang korupsi di Maroko, negeri yang pernah dijajah Perancis. Di mana-mana perilaku korupsi adalah kejahatan yang merugikan negara dan rakyat. Dan selalu harus diperangi!</p>
<p>Perang terhadap korupsi lewat narasi-narasi sastra dan pertunjukan pernah dikibarkan oleh Butet Kartaredjasa. Tahun 2004, bersama Whani Dharmawan dan Lephen Purwaraharja, ia menggelar Lomba Naskah Monolog Anti Budaya Korupsi. Lomba diikuti 224 naskah monolog dan tiga naskah pemenang serta 12 naskah nominasi dibukukan dalam Antologi Naskah Monolog Anti Budaya Korupsi tahun 2004. ”Ini cuma langkah kecil, tapi penting,” ujar Butet sembari mengatakan, buku itu ”cuma” dicetak 1.000 eksemplar dan tak pernah cetak ulang.</p>
<p>”Saya tidak kapok meski itu usaha swadaya,” katanya. Ia berhasrat membuat lomba serupa, tetapi khusus buat kalangan siswa dengan naskah realis. ”Monolog itu ringkes bisa dipentaskan di mana dan kapan saja. Dan kepada para siswa kita investasi akhlak, bahwa korupsi itu kejahatan yang merugikan rakyat,” kata Butet.</p>
<p>Tidak itu saja. Butet bersama penulis Agus Noor pernah mementaskan monolog berjudul Koruptor Budiman di Jakarta dan Tanjungpinang tahun 2008. Pentas atas dukungan lembaga Partnership for Governance Reform, itu tak berhasil dipentaskan di Medan. Lakon ini berkisah tentang koruptor yang gagal menyerahkan diri. Tidak ada seorang polisi atau lembaga lain yang menangkapnya. Sebagai koruptor kelas kakap ia heran, mengapa tidak juga ditangkap.</p>
<p>”Hanya saja, kadang saya tetap heran dengan aparat kita. Kenapa, sih, sungkan-sungkan menangkap koruptor kakap macam saya? Ketika saya datang, mereka malah sembunyi&#8230;,” kata si koruptor.</p>
<p>Bukankah itu sindiran yang sarkastik? Realitas yang dipahami rakyat saat ini, banyak koruptor berseliweran, kalaupun ditangkap ”cuma” dijatuhi hukuman yang dinilai tidak sesuai dengan berat kesalahannya.</p>
<p>Bersama kelompok Teater Gandrik, Butet juga mementaskan lakon Pandol alias Panti Idola, yang berkisah tentang panti rehabilitasi para koruptor. Bahkan pada April 2013, Gandrik akan mementaskan Gundala Gawat karya Goenawan Mohamad, yang juga berisi perlawanan terhadap korupsi.</p>
<p>Saking kehabisan akal, kata Butet, sebuah negara memanggil seluruh superhero dunia, seperti Gundala, jagoan komik karya komikus Jogja, Hasmy, dalam Gundala Putra Petir. Juga Superman, Batman, dan kawan- kawan untuk membantu memberangus korupsi di negara tersebut. ”Korupsi pada kita sudah gawat&#8230;,” kata Butet.</p>
<p>Menurut Butet, perlawanan terhadap korupsi harus menyeluruh. Jika sastra turut serta melakukan serangan pada korupsi, mungkin belum memiliki implikasi hukum. Akan tetapi, setidaknya, ada satu generasi di mana investasi akhlak yang mulia itu sudah dimulai. ”Yang rusak biar saja hilang, generasi baru harus punya akhlak yang lebih baik,” katanya.</p>
<p><strong>”Kuwi Opo Kuwi”</strong></p>
<p>Dalam rubrik Catatan Kebudayaan di majalah Horison, November 1972, Mochtar Lubis sudah menulis tentang bagaimana korupsi sudah menjadi budaya di negeri kita. ”Ciri utama kebudayaan korupsi adalah bahwa nilai-nilainya ditentukan oleh uang. Potensinya untuk merusak akhlak dan moral juga di sini,” tulis Mochtar Lubis.</p>
<p>Kebudayaan korupsi, tambahnya, amat merusak nilai-nilai manusia. Kehormatan, martabat manusia, kesetiaan pada bangsa sekalipun dapat dihancurkan dalam waktu singkat.</p>
<p>Begitulah seniman dengan caranya sendiri menunjukkan keberpihakannya yang tegas pada rakyat yang antikorupsi. Jauh sebelum korupsi menggurita, rakyat di negeri ini telah diingatkan oleh para seniman lewat sastra. Juga lewat tembang dolanan ”Kuwi Opo Kuwi” yang populer di masyarakat Jawa sejak era 1950-an. Tembang gubahan Ki Tjokrowarsito (1909-2007)</p>
<p>itu diperdengarkan dalam pembukaan pameran lukisan karya Aris Budiono Sadjad berjudul Perang Suci Melawan Korupsi di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (14/3) malam. Begini bunyinya:</p>
<p><em>Kuwi opo kuwi e kembang melathi</em></p>
<p><em>sing tak puja-puji aja dha korupsi</em></p>
<p><em>Merga yen korupsi negarane rugi</em></p>
<p><em>Piye to kuwi, aja ngona &#8211; ngona, ngono</em></p>
<p>**<em> </em></p>
<p><em>Kuwi opo kuwi e kembange menur</em></p>
<p><em>sing tak puja-puji pemimpin dha jujur</em></p>
<p><em>Merga yen dha jujur negarane makmur</em></p>
<p><em>Piye to kuwi, iya ngona &#8211; ngona ngono kuwi</em></p>
<p>Terjemahan bebasnya kira-kira seperti ini.</p>
<p>Bait I: Itu apa itu, e kembang melati/ Yang kupuja puji, janganlah korupsi/ sebab jika korupsi negara akan rugi/ Gimana sih, jangan begitulah.</p>
<p>Bait II: Itu apa itu e kembang menur/ Yang kupuja puji pemimpin pada jujur/ Sebab jika mereka jujur negara akan makmur/ Gimana sih, ya (seharusnya) begitu.</p>
<p>Tembang, dan juga karya sastra dari Pram serta seniman lain tersebut bermuatan harapan dan doa agar ”Koruptor Budiman” itu aja ngona- ngona, ngono &#8230;.Jangan begitu.</p>
<p>Sumber: <a href="http://nasional.kompas.com/read/2013/03/17/08505876/Korupsi.Korupsi.Korupsi">Kompas.com</a></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indonesiabersih.org/sorot/korupsi-korupsi-korupsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mural-Grafity: Seni Dalam Perlawanan Budaya</title>
		<link>http://www.indonesiabersih.org/info-indonesia-bersih/mural-grafity-seni-dalam-perlawanan-budaya/</link>
		<comments>http://www.indonesiabersih.org/info-indonesia-bersih/mural-grafity-seni-dalam-perlawanan-budaya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 May 2013 03:33:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pojok Kami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indonesiabersih.org/?p=2856</guid>
		<description><![CDATA[Berebut kursi untuk Korupsi. Gambaran situasi politik negeri yang carut-marut akibat haus akan kekuasaan. Ada lagi, sebuah gambar yang menceritakan seorang anak kecil yang meihat manusia berkepala sapi dan perempuan cantik. Melihat gambar itu kita teringat dengan kasus sapi impor yang membelit Partai Keadilan Sejahtera. Kondisi korupsi di Indonesia saat ini sudah semakin parah, apa [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Berebut kursi untuk Korupsi. Gambaran situasi politik negeri yang carut-marut akibat haus akan kekuasaan. Ada lagi, sebuah gambar yang menceritakan seorang anak kecil yang meihat manusia berkepala sapi dan perempuan cantik.<span id="more-2856"></span> Melihat gambar itu kita teringat dengan kasus sapi impor yang membelit Partai Keadilan Sejahtera.</p>
<p>Kondisi korupsi di Indonesia saat ini sudah semakin parah, apa lagi tahun 2014 merupakan kompetisi nasional untuk memperebutkan piala yang namanya Kekuasaan. Banyak cara yang dilakukan oleh elit politik untuk mendapatkan modal dalam persiapan pemilu mendatang. Politik saling Sandra yang sering terjadi, contoh yang sering muncul dalam politik saling Sandra adalah, memanfaatkan anggaran untuk mendapatkan modal keuangan partai. Dana Bantuan Sosial, salah satunya. Kepala Daerah, Politisi DPR sering memanfaatkan agenda Bantuan Sosial untuk memenangkan kompetisi 5 tahunan.</p>
<p>Baru-baru ini, pemerintah kembali merencanakan untuk memberikan kompensasi atas rencana kenaikan BBM dalam bentuk BALSEM atau Bantuan Langsung Sementara Masyarakat. Belum lagi, Izin-izin pembukaan lahan untuk usaha pertambangan dan perkebunan. Izin-izin perkebunan dan tambang merupakan modal politik untuk memuluskan kampanye dalam pemilu mendatang.</p>
<p><b>Melawan Budaya</b></p>
<p>Merebaknya kasus korupsi di negeri ini menjadi realitas yang memedihkan hati. Pasalnya, pelaku tindak korupsi adalah orang-orang terdidik yang (semestinya) mengerti betapa merugikannya perilaku-perilaku koruptif. Bahkan, sebagai penganut suatu agama, mereka bukan tidak tahu mana halal dan mana haram. Hal ini menunjukkan masih miskinnya moralitas di tengah-tengah masyarakat-intelektual kita. Karena itulah, ‘Perang Melawan Korupsi Politik’ di visualkan dalam bentuk karya seni mural.</p>
<p>Pertanyaannya, sudah imbangkah upaya kita dengan penyakit ganas korupsi? Bila tidak, tunggu apa lagi, mari kita tingkatkan upaya-upaya kreatif membumihanguskan korupsi. Bagaimana caranya? Salah satunya melalui maksimalisasi peran mural dengan gambar-gambar atau kalimat-kalimat bermuatan moral. Paling tidak, mural bisa menjadi media pengingat bagi bangsa kita yang pelupa.</p>
<p>Apa yang dilakukan Komunitas Street Serrum dengan menjadikan mural sebagai senjata melawan korupsi politik merupakan angin segar sekaligus fakta yang menarik. Bahwa ternyata upaya berbenah diri masih kuat di bangsa ini. Banyaknya komunitas street art di Indonesia bisa memberi angin segar dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat tentang bahayanya korupsi politik. [AS]</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indonesiabersih.org/info-indonesia-bersih/mural-grafity-seni-dalam-perlawanan-budaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Semoga Ayah Ibuku Tidak Korupsi&#8230;</title>
		<link>http://www.indonesiabersih.org/sorot/semoga-ayah-ibuku-tidak-korupsi/</link>
		<comments>http://www.indonesiabersih.org/sorot/semoga-ayah-ibuku-tidak-korupsi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 May 2013 07:36:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sorot]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indonesiabersih.org/?p=2845</guid>
		<description><![CDATA[KOMPAS.com &#8211; Rakyat mengungkapkan rasa jijik mereka atas menggilanya kejahatan korupsi lewat mural di tembok-tembok kota. Di ruang pamer, perupa ”berperang” melawan korupsi dengan menampilkan sosok celeng, alias babi hutan, sebagai metafora keserakahan para pengisap harta rakyat. &#8220;Ya Tuhan, Semoga Ayah Ibuku Tidak Korupsi&#8230;”, itulah harapan dan doa warga yang tertulis pada pilar beton penyangga [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2846" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><img class=" wp-image-2846    " alt="Mural menjadi salah satu media kampanye untuk melawan maraknya praktik korupsi di negeri ini. Salah satu karya mural antikorupsi tersebut bisa ditemui di bawah Jembatan Layang Jalan Jenderal Gatot Subroto, Sabtu (16/3). " src="http://www.indonesiabersih.org/wp-content/uploads/2013/05/ya-tuhan.jpg" width="500" height="265" /><p class="wp-caption-text">Mural menjadi salah satu media kampanye untuk melawan maraknya praktik korupsi di negeri ini. Salah satu karya mural antikorupsi tersebut bisa ditemui di bawah Jembatan Layang Jalan Jenderal Gatot Subroto, Sabtu (16/3).</p></div>
<p><strong>KOMPAS.com</strong> &#8211; Rakyat mengungkapkan rasa jijik mereka atas menggilanya kejahatan korupsi lewat mural di tembok-tembok kota. Di ruang pamer, perupa ”berperang” melawan korupsi dengan menampilkan <span id="more-2845"></span>sosok celeng, alias babi hutan, sebagai metafora keserakahan para pengisap harta rakyat.</p>
<p>&#8220;Ya Tuhan, Semoga Ayah Ibuku Tidak Korupsi&#8230;”, itulah harapan dan doa warga yang tertulis pada pilar beton penyangga jembatan layang yang melintas di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Di samping tulisan itu tergambar seorang ibu berdoa dengan tangan menengadah.</p>
<p>Di tiang penyangga lain, masih di kolong jembatan layang yang sama, ada mural atau lukisan dinding bergambar perempuan dengan air mata menitik bertuliskan, ”Aku Tak Sudi Bersuamikan Koruptor&#8230;”.</p>
<p>Gambar itu terbuat dari kertas berwarna putih dan ditempelkan di dinding beton. Kondisinya usang dan berimpit dengan gambar-gambar lain. Namun, mural ini tampak cukup menohok mata. Kata-katanya tertulis dengan huruf berwarna merah tegas.</p>
<p>Mural-mural di kolong jembatan layang itu terletak sekitar 300 meter dari gerbang Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia yang berpagar besi menjulang. Kolong jembatan itu menjadi tempat berteduh warga pejalan kaki atau pengendara motor kala hujan turun.</p>
<p>Kita simak mural lain di tembok jembatan layang arteri Permata Hijau, Jakarta Selatan. Di sana, ada mural bergambar wajah dengan ujung jari telunjuk yang ditempel di depan bibir. Wajah itu seakan memberi isyarat peringatan. Lalu ada tulisan, ”Ssstt&#8230; Ingat&#8230;!!! Masih Ada Korupsi&#8230;”.</p>
<p>Cobalah tengok ke terowongan Cawang, Jakarta Timur. Pada dinding kiri ujung terowongan yang mengarah ke Cililitan terpampang mural yang menggambarkan meja makan. Di atasnya ada mangkuk berisi buah-buahan dan gelas minum. Meja itu dikitari sosok berdasi berkepala setan, tikus, babi, dan celeng. Pada sudut kanan bawahnya terbaca pesan, ”Hati-hati dalam Memilih”.</p>
<p><strong>Lawan</strong></p>
<p>Begitulah mural-mural bertebaran di sudut-sudut kota Jakarta dengan muatan ekspresi yang hampir sama, yaitu melawan korupsi! Tak mudah melawan korupsi dengan cara mural. Komunitas Street Serrum yang cukup gencar berperang melawan korupsi dengan senjata mural harus pintar-pintar bermain kucing-kucingan dengan polisi atau petugas dari kelurahan.</p>
<p>Komunitas Serrum lahir tahun 2006 sebagai wadah para mahasiswa bereksplorasi dengan menjajal berbagai medium karya seni rupa. Arief ”Arman” Rachman (32), salah satu pegiatnya, menuturkan, nama ”Serrum” sebenarnya pelesetan dari bahasa Inggris, share room, yang bermakna berbagi ruang. Dalam hal ini berbagi ruang penyampai unek-unek rakyat.</p>
<p>Namun, tidak mudah berbagi ruang dengan pihak yang mungkin mendukung korupsi. Nyatanya, banyak mural antikorupsi kerap berumur pendek. Bahkan, banyak yang hanya berumur jam-jaman. Para pegiat street art sudah hafal, ada daerah-daerah keramat untuk mural dan grafiti. Underpass Dukuh Atas itu salah satu tempat paling ”keramat”, grafiti atau mural apa pun biasanya akan dibersihkan dalam satu-dua hari.</p>
<p>MG Pringgotono (32) alias MG, anggota Serrum, hafal jenis mural, grafiti, atau poster ”keramat” yang tak bakal berumur panjang. Tiap kali membuat mural, grafiti, dan poster antikorupsi yang menyebut nama tokoh, misalnya seorang terpidana korupsi, pasti karya itu bakal lenyap dalam hitungan jam.</p>
<p>”Jadi, ada lokasi ’angker’, yang pasti membersihkan grafiti, mural, atau poster apa pun dalam hitungan hari. Dan, selalu ada isu ’keramat’ yang selalu dibersihkan entah oleh siapa dalam hitungan hari, bahkan jam,” kata MG.</p>
<p>Namun, mereka tidak pernah jeri dan terus bergerilya melakukan ”perang kota”. ”Kami memilih melakukan pendidikan publik di ruang publik, lewat propaganda publik,” ujar MG.</p>
<p><strong>Perang celeng</strong></p>
<p>Bendera perang terhadap korupsi juga dikibarkan oleh pelukis Aris Budiono Sadjad dengan menggelar pameran bertajuk ”Perang Suci Melawan Korupsi”, 14-23 Maret 2013, di Bentara Budaya Jakarta (BBJ). Pameran yang menggelar 23 lukisan ini dibuka oleh Direktur Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Dedi A Rachim, Kamis (14/3).</p>
<p>Aris geram melihat perilaku para koruptor yang tidak menampakkan penyesalan. Karena itu, ia menggunakan celeng sebagai metafor kerakusan dan kebebalan. ”Kalau tikus itu mudah dikalahkan dan penakut, nah kalau celeng, tetap merasa gagah walau korupsi,” kata Aris.</p>
<p>Dalam lukisan ”Empat Cakil Rakyat”, Aris menggambar empat butha cakil (raksasa kecil yang rakus) sedang menunggang empat ekor celeng. Keempat celeng bertaring panjang dengan mata mendelik dan mulut merah. Jelas sekali ciri-ciri sebagai ”hama” yang rakus itu siap memangsa apa saja.</p>
<p>Di lukisan lain dengan penuh ironi Aris melukis ”Corruptor Family Gathering”. Di kanvas tampak sejumlah kalangan sedang berpesta pora, bersenang-senang, berenang, main musik, dan segala aktivitas hiburan lainnya. Hal yang aneh, seluruh pelaku pesta pora itu berwajah celeng. Begitulah, kata Aris, sifat celeng. ”Selalu gagah, tak pernah takut, malah diperlakukan seperti selebritas. Semua itu, kan, kini terjadi di hadapan kita?” kata Aris.</p>
<p>Kita kini seolah hidup di negeri penuh koruptor. Pemutarbalikan fakta jadi hal biasa, perasaan tidak bersalah jadi pemandangan sehari-hari. ”Dan itu memuakkan sekali, sudah seharusnya dilawan,” kata Aris.</p>
<p>KPK merasa mendapat kawan dalam berperang melawan para ”celeng” pemangsa harta rakyat. ”Ibaratnya kami sedang berperang sendirian di tengah gurun pasir, dan tiba-tiba ada sumber air. Ini menyejukkan kami. Ternyata, KPK punya teman-teman seniman,” kata Dedi dalam pembukaan pameran di BBJ.</p>
<p><strong>Provokasi kesadaran batin</strong></p>
<p>Seniman yang beraksi dengan mural dan grafiti di tembok-tembok kota tentunya juga kawan- kawan KPK. Budayawan Mudji Sutrisno SJ menyebut seniman seperti mereka sebagai penjaga kehidupan yang tetap mau menjaga kelangsungan hidup bermartabat.</p>
<p>Apakah suara rakyat yang terucap di tembok-tembok kota itu didengar orang?</p>
<p>”Kentungan harus dipukul terus untuk mengingatkan jaga malam saat waktu jaga, atau bahaya-bahaya, maling, kebakaran yang akan menghancurkan masyarakat. Anjing harus terus menggonggong lantaran proses membaca tulisan-tulisan di mural yang antikorupsi masih tetap menemukan bacaannya untuk kita,” kata Mudji.</p>
<p>Mudji melihat suara-suara di tembok kota tetap diperlukan. Yang berbahaya adalah kalau apatisme dan kebisuan, cuek, tidak acuh sudah menjadi sikap lalu tidak ada sama sekali reaksi atau tulisan-tulisan mural lagi. Bila sampai tahap ini, demokrasi dan hidup bersama berada dalam lampu merah. ”Selama seniman nurani masih terus nulis tajam dan kritis antikorupsi di mural-mural, itu berarti masih ada dinamika hidup di masyarakat kita,” kata Mudji.</p>
<p>Bagaimanapun, suara rakyat di tembok-tembok kota atau di ruang pameran akan tetap mempunyai makna di tengah kehidupan negeri ini saat ini. Kritikus seni rupa Suwarno Wisetrotomo dalam katalog pameran ”Perang Suci Melawan Korupsi” mengingatkan bahwa karya seni memiliki fungsi untuk memprovokasi kesadaran dan batin.</p>
<p>Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Yogyakarta itu menandaskan, ”Karya seni melatih kepekaan dan sikap kritis terhadap segala ketidakadilan atau kezaliman yang menimpa manusia, kemanusiaan, serta kehidupan.” (AHA/CAN/ROW/XAR)</p>
<p>Sumber: <a href="http://nasional.kompas.com/read/2013/03/17/09110734/Semoga.Ayah.Ibuku.Tidak.Korupsi">Kompas.com</a></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indonesiabersih.org/sorot/semoga-ayah-ibuku-tidak-korupsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Daripada Corat-coret, Jokowi Dukung Grafiti</title>
		<link>http://www.indonesiabersih.org/sorot/2841/</link>
		<comments>http://www.indonesiabersih.org/sorot/2841/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 May 2013 03:10:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sorot]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indonesiabersih.org/?p=2841</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA, KOMPAS.com — Corat-coret tak teratur di ruang publik memiliki perbedaan soal tindakan hukum. Jika Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan mengenakan tindak pidana ringan bagi pelaku corat-coret, hal tersebut tak akan berlaku bagi pembuat grafiti atau boomber. &#8220;Yang perlu dibedakan, corat-coret berbeda dengan grafiti, mural. Grafiti dan mural bisa izin dengan kami,&#8221; ujar Gubernur DKI [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA, KOMPAS.com</strong> — Corat-coret tak teratur di ruang publik memiliki perbedaan soal tindakan hukum. Jika Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan mengenakan tindak pidana ringan bagi pelaku corat-coret, hal tersebut tak akan berlaku bagi pembuat grafiti atau <em>boomber</em>.<span id="more-2841"></span></p>
<p>&#8220;Yang perlu dibedakan, corat-coret berbeda dengan grafiti, mural. Grafiti dan mural bisa izin dengan kami,&#8221; ujar Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo kepada wartawan, Selasa (7/5/2013).</p>
<p>Pria yang akrab disapa Jokowi itu melanjutkan, perbedaan kedua jenis coretan tersebut terdapat pada tema. Jika corat-coret tak memiliki tema tertentu, tak demikian halnya pada pembuatan grafiti. Bahkan, grafiti telah menjadi bagian dari seni kontemporer modern.</p>
<p>Sementara soal pelaku corat-coret yang biasa dilakukan oleh pelajar, Jokowi telah memerintah Satuan Polisi Pamong Praja di setiap wilayah untuk mengawasi ruang-ruang publik agar bebas dari tangan-tangan jahil pelaku corat-coret.</p>
<p>&#8220;Itu urusan Satpol PP. Kan, sudah ada peraturannya. Kalau mau kotanya bersih, ya, seperti itu. Kalau negara lain bisa, kita juga harus bisa,&#8221; ucapnya.</p>
<p>Dalam acara pengarahan Gubernur DKI Jakarta kepada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) DKI dan para camat dari wilayah se-Ibu Kota, Senin pagi, aduan terkait adanya ruang publik yang penuh coretan itu datang dari Camat Johar Baru Suryanto. Menurut dia, soal corat-coret yang dilakukan para pelajar telah menyebabkan lingkungan tak sedap dipandang.</p>
<p>Instruksi yang disampaikan Jokowi kepada Satpol PP pun memiliki tenggat waktu mulai Juni 2013. Ia menginstruksikan semua sudut Ibu Kota harus bersih dari corat-coret dan mulai memberlakukan tindak pidana ringan bagi para pelaku itu mulai bulan depan.</p>
<p>Sumber: <a href="http://megapolitan.kompas.com/read/2013/05/07/15414574/">Kompas.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indonesiabersih.org/sorot/2841/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Propaganda Visual: Melawan Korupsi Politik Melalui Medium Kreatif</title>
		<link>http://www.indonesiabersih.org/info-indonesia-bersih/propaganda-visual-melawan-korupsi-politik-melalui-medium-kreatif/</link>
		<comments>http://www.indonesiabersih.org/info-indonesia-bersih/propaganda-visual-melawan-korupsi-politik-melalui-medium-kreatif/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 May 2013 08:08:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pojok Kami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indonesiabersih.org/?p=2834</guid>
		<description><![CDATA[Korupsi tidak pernah lepas darip pemberitaan media setiap harinya.Hampir semua media cetak, tv ataupun online kerap memberitakan kasus-kasus korupsi. Tampaknya telinga sudah “bebal” mendengar kata korupsi. Jenuh sudah pasti, kasus-kasus korupsi yang membelit pejabat Negara sering kali terjadi.DPR berkoalisi untuk menggarong uang rakyat, Menteri juga demikian, terlibat dalam skenario jahat mencuri uang rakyat. Jika mau [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Korupsi tidak pernah lepas darip pemberitaan media setiap harinya.Hampir semua media cetak, tv ataupun online kerap memberitakan kasus-kasus korupsi.<span id="more-2834"></span> Tampaknya telinga sudah “bebal” mendengar kata korupsi.</p>
<p>Jenuh sudah pasti, kasus-kasus korupsi yang membelit pejabat Negara sering kali terjadi.DPR berkoalisi untuk menggarong uang rakyat, Menteri juga demikian, terlibat dalam skenario jahat mencuri uang rakyat.</p>
<p>Jika mau dikaji lebih dalam, kasus-kasus korupsi yang selama ini ada selalu bermuara pada partai politik.Kita tahu dong, Tahun 2013 ini waktunya bagi elit politik untuk mempersiapkan diri menghadapi pemilu 2014.</p>
<p>Tahun-tahun kritis jelang pemilu biasanya akan semakin seru. Modusnya adalah Politik Saling Sandera, Artinya politisi menyandera anggaran Negara untuk kepentingan logistic pertarungan saat pemilu mendatang.</p>
<p>Modus korupsi yang sering terjadi menjelang pemilu adalah penyanderaan anggaran Negara melalui hibah/bansos untuk “memelihara” kelompok konstituen yang loyal, guna memuluskan pemenangan ajang kontestasi tersebut.Jadi, ketika bicara korupsi, semuanya bermuara pada partai politik dan pejabat Negara yang sedang berkuasa.</p>
<p>Mungkin kita akan bertanya-tanya, apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi korupsi yang semakin hari semakin massif. Pertanyaan berikutnya adalah, Seberapa besar sih kekuatan kita untuk ikut serta dalam upaya pembarantasan korupsi?.Jawabannya sederhana banget, jangan kita terjebak pada pertanyaan seberapa besar kekuatan kita, tapi apa yang bisa kita berikan dalam melawan korupsi.</p>
<p>Kita bisa melawan korupsi dengan cara apapun, mari kita mulai dengan cara-cara yang sederhana.Ajak kawan-kawan kamu untuk berbuat sesuatu.Sebarkan informasi tentang modus korupsi yang melibatkan partaipolitik.</p>
<p>Saat ini, kami dari Club Indonesia Bersih sedang mempersiapkan agenda kampanye dengan melibatkan teman-teman darikomunitas Street Art.Kami ingin, memberikan informasi tentang modus-modus korupsi politik dimasyarakat lewat komunikasi visual.Tujuannya adalah agar masyarakat lebih paham tentang kondisi korupsi yang terjadi di Indonesia.</p>
<p>Kami menilai, terapi visual masih sangat diminati dilakangan masyarakat, sebagai media alternative penyebaran informasi kasus-kasus korupsi politik.Harapan dari kampanye ini agar kita semua bisa lebih selektif dalam menentukan pilihan pada pemilu mendatang.[AS]</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indonesiabersih.org/info-indonesia-bersih/propaganda-visual-melawan-korupsi-politik-melalui-medium-kreatif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Prestasi Film Indonesia dalam Angka</title>
		<link>http://www.indonesiabersih.org/sorot/prestasi-film-indonesia-dalam-angka/</link>
		<comments>http://www.indonesiabersih.org/sorot/prestasi-film-indonesia-dalam-angka/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Apr 2013 10:20:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sorot]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indonesiabersih.org/?p=2828</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta, GATRAnews &#8211; Fenomena film Habibie dan Ainun mungkin menjadi hal paling membekas di perfilman nasional akhir tahun 2012. Bagaimana tidak, film yang diproduksi MD Entertainment tersebut berhasil meraih 4.379.376 penonton. Akademi Film Indonesia (Akademi FI) pun mengganjar film tersebut dengan penghargaan Akademi FI, Jati Emas, untuk kategori &#8220;Film Terlaris&#8221;, Senin (8/4). Menurut data dari [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><b>Jakarta, GATRAnews</b> &#8211; Fenomena film <i>Habibie dan Ainun</i> mungkin menjadi hal paling membekas di perfilman nasional akhir tahun 2012. Bagaimana tidak, film yang diproduksi MD Entertainment tersebut berhasil meraih 4.379.376 penonton. <span id="more-2828"></span>Akademi Film Indonesia (Akademi FI) pun mengganjar film tersebut dengan penghargaan Akademi FI, Jati Emas, untuk kategori &#8220;Film Terlaris&#8221;, Senin (8/4).</p>
<p>Menurut data dari Akademi FI, sepuluh besar film terlaris Indonesia sepanjang tahun 2012, yakni 1. <i>Habibie dan Ainun</i>, 2. <i>5 cm</i>, 3. <i>The Raid</i>, 4. <i>Negeri 5 Menara</i>, 5. <i>Perahu Kertas</i>, 6. <i>Soegija</i>, 7. <i>Nenek Gayung</i>, 8. <i>Rumah Kentang</i>, 9. <i>Perahu Kertas 2</i>, dan 10. <i>Rumah Bekas Kuburan.</i></p>
<p>Menurut Kritikus film dan pendiri <i>filmindonesia.or.id</i>, JB Kristanto, data-data perfilman termasuk jumlah penonton sangat penting untuk diketahui. Jika sebuah film mampu melewati angka penonton lebih dari 500.000 orang, dinilainya merupakan prestasi tersendiri. &#8220;Situs <i>filmindonesia.or.id</i> menyusun data untuk memungkinkan membuat analisa awal industri film Indonesia,&#8221; kata kritikus senior ini.</p>
<p>Film terlaris <i>Habibie dan Ainun</i> ternyata diputar di 81 bioskop dan 102 layar seluruh Indonesia selama 91 hari (20 Desember 2012- 20 Maret 2013). Jumlah penayangan terbanyak film tersebut jatuh pada tanggal 25 Desember 2012 dengan 152 bioskop dan 266 layar. Kesimpulannya, orang Indonesia gemar nonton film <i>bareng</i> di hari libur.</p>
<p>Data-data lain menyebutkan jenis film yang paling banyak dibuat dan ditonton di Indonesia tahun 2012 adalah film drama (46 buah) dan horor (19).Sementara itu cerita adaptasi memenangkan perolehan jumlah penonton sebanyak 9.500.696 orang.</p>
<p>Sebanyak 78 orang sutradara aktif membuat film di tahun 2012, dengan 36 merupakan nama baru. 16 orang nama baru di antaranya masuk melalui film omnibus seperti <i>Sanubari Jakarta</i>, <i>Kita Versus Korupsi</i>, <i>Hi5teria</i>, dan <i>Sinema Purnama.</i> Nayato Fio Nuala menjadi sutradara film Indonesia paling produktif dengan 9 film di tahun 2012. Disusul dengan Chiska Doppert dan Nuri Dahlia masing-masing membuat 4 film di tahun 2012.<b> (*/Ven)</b></p>
<p>Sumber: <a href="http://www.gatra.com/entertainmen/film-1/27929-prestasi-film-indonesia-dalam-angka.html">Gatra.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indonesiabersih.org/sorot/prestasi-film-indonesia-dalam-angka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ine Febriyanti Survei dan &#8220;Ngamen&#8221; di 3 Negara</title>
		<link>http://www.indonesiabersih.org/sorot/ine-febriyanti-survei-dan-ngamen-di-3-negara/</link>
		<comments>http://www.indonesiabersih.org/sorot/ine-febriyanti-survei-dan-ngamen-di-3-negara/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Apr 2013 09:57:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sorot]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indonesiabersih.org/?p=2822</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA, KOMPAS.com &#8212; Aktris dan sutradara Ine Febriyanti (37) hari Rabu ini akan berangkat menuju Paris, Den Haag, dan Berlin. ”Saya mau backpacker-an, survei sekalian ngamen,” kata perempuan yang bernama lengkap Sha Ine Febriyanti itu, Senin (8/4/2012) malam. Ceritanya, Ine diminta Pusat Kebudayaan Perancis (CCF) untuk tampil bersama akrobator Perancis, Alexandre Fray dan Frederic Arsenault, [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><b>JAKARTA, KOMPAS.com &#8212; </b>Aktris dan sutradara Ine Febriyanti (37) hari Rabu ini akan berangkat menuju Paris, Den Haag, dan Berlin. ”Saya mau <i>backpacker-</i>an, survei sekalian ngamen,” kata perempuan yang bernama lengkap Sha Ine Febriyanti itu, Senin (8/4/2012) malam.<span id="more-2822"></span></p>
<p>Ceritanya, Ine diminta Pusat Kebudayaan Perancis (CCF) untuk tampil bersama akrobator Perancis, Alexandre Fray dan Frederic Arsenault, dalam pentas Rictus (Warm) karya sutradara David Bobee di Salihara, Jakarta. ”Saya berperan sebagai narator,” katanya.</p>
<p>Ine harus berproses diri untuk menghafalkan 13 halaman naskah. Namun, dia tidak memiliki waktu latihan bersama dua akrobator itu. ”Akhirnya saya diundang ke Paris untuk menyaksikan pertunjukan mereka dalam bahasa Perancis tanggal 11 April,” ujarnya.</p>
<p>Ine memanfaatkan undangan CCF itu sekalian untuk memutar dua filmnya, <i>Tuhan pada Jam 10 Malam </i>dan <i>Kita versus Korupsi </i>di tiga negara tadi. ”Aku bawa banyak DVD dan <i>hard disk </i>juga data di MacBook-ku lengkap dalam ransel!” kata Ine.</p>
<p>Menurut dia, pemutaran film di tiga kota itu diurus oleh mahasiswa dan KBRI setiap negara yang dikunjungi. Sekalian survei untuk film baru? ”Untuk saat ini akan memutar film dulu. Kan kalau untuk survei dan observasi sepanjang hidup bisa kita lakukan,” ujar Ine.<b> (ush)</b></p>
<p>Sumber: <a href="http://entertainment.kompas.com/read/2013/04/10/07383632/Ine.Febriyanti.Survei.dan.Ngamen.di.3.Negara?utm_source=WP&amp;utm_medium=box&amp;utm_campaign=Kenwp">Kompas.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indonesiabersih.org/sorot/ine-febriyanti-survei-dan-ngamen-di-3-negara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ine Febriyanti Wakilkan Indonesia di Cinemasia Film Festival Amsterdam</title>
		<link>http://www.indonesiabersih.org/sorot/ine-febriyanti-wakilkan-indonesia-di-cinemasia-film-festival-amsterdam/</link>
		<comments>http://www.indonesiabersih.org/sorot/ine-febriyanti-wakilkan-indonesia-di-cinemasia-film-festival-amsterdam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Apr 2013 10:27:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sorot]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indonesiabersih.org/?p=2813</guid>
		<description><![CDATA[Film Kita Versus Korupsi memang sudah turun dari layar bioskop di tanah air. Namun gaung film omnibus itu sampai juga ke festival luar negeri. Adalah Ine Febriyanti yang akan mewakili Indonesia dalam ajang Cinemasia Film Festival Amsterdam di Belanda. &#8220;Ya, alhamdulillah, film omnibus Kita Versus Korupsi akan ke Belanda, ini film saya masih jadi &#8216;selected [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Film <strong>Kita Versus Korupsi</strong> memang sudah turun dari layar bioskop di tanah air. Namun gaung film <strong>omnibus</strong> itu sampai juga ke festival luar negeri.<span id="more-2813"></span> Adalah <strong>Ine Febriyanti</strong> yang akan mewakili Indonesia dalam ajang Cinemasia Film Festival Amsterdam di Belanda.</p>
<p>&#8220;Ya, alhamdulillah, film omnibus <a href="http://www.ceritamu.com/cerita/intip-trailer-film-kita-versus-korupsi" target="_blank">Kita Versus Korupsi </a>akan ke Belanda, ini film saya masih jadi &#8216;selected by&#8217; di Cinemasia Film Festival Amsterdam. April nanti kita berangkat,&#8221; ujar Ine saat ditemui di Gedung Proklamasi.</p>
<p>Ine Sendiri dalam film KIta Versus Korupsi mengarahkan cerita Selamat Siang Risa. Filmnya sendiri bercerita tentang soerang ayah yang harus memberikan hasil jujur untuk anak-anaknya.</p>
<p>Istri dari DOP handal Yudi Datau ini mengaku bangga dengan apa yang sudah dicapainya selama ini. Masalah penghargaan dan undangan dari pihak asing, bagi Ine itu hanyalah sebuah bonus.</p>
<p>&#8220;Bangga sudah pasti, memang seneng, kita butuh nilai juga. Walau tidak terlalu penting, tapi membuat saya bangga. Apalagi kalau bisa menginspirasi orang. Itu seneng banget, tapi kalau pergi ke sana (festival) sih kayaknya bonus,&#8221; tambah ibu dua anak itu.</p>
<p>Cinemasia Film Festival sendiri akan digelar di De Balie, Amsterdam, Belanda. Festival ini akan digelar pada 4-7 April 2013 mendatang. Selain film KIta Versus Korupsi, film Indonesia lainnya yang masuk adalah film karya sutradara muda Kuntz Agus, <a href="http://www.ceritamu.com/cerita/Republik-Twitter" target="_blank">Republik Twitter</a>.</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.ceritamu.com/cerita/ine-febriyanti-wakilkan-indonesia-di-cinemasia-film-festival-amsterdam">Ceritamu.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indonesiabersih.org/sorot/ine-febriyanti-wakilkan-indonesia-di-cinemasia-film-festival-amsterdam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinemasia 2013: Kita versus Korupsi</title>
		<link>http://www.indonesiabersih.org/info-indonesia-bersih/cinemasia-2013-kita-versus-korupsi/</link>
		<comments>http://www.indonesiabersih.org/info-indonesia-bersih/cinemasia-2013-kita-versus-korupsi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Apr 2013 10:28:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pojok Kami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indonesiabersih.org/?p=2807</guid>
		<description><![CDATA[Indisch 3.0 steunt films uit Indonesië. Van 4 tot en met 7 april a.s. vertoont Cinemasia talloze films uit heel Azië, van Indonesië tot Taiwan. Deze week staat Indisch 3.0 daarom in het teken van Cinemasia 2013, het Aziatische filmfestival in De Balie (Amsterdam) en bespreken we dagelijks een van de vijf Ind(ones)ische films. Vandaag: Kita versus [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="text-decoration: underline;"><a href="http://www.cinemasia.nl/"><img class="alignleft size-full wp-image-2808" alt="cinemasia thumbnail" src="http://www.indonesiabersih.org/wp-content/uploads/2013/04/cinemasia-thumbnail.jpg" width="150" height="199" /></a></span>Indisch 3.0 steunt films uit Indonesië. Van 4 tot en met 7 april a.s. vertoont Cinemasia talloze films uit heel Azië, van Indonesië tot Taiwan. <span id="more-2807"></span>Deze week staat Indisch 3.0 daarom in het teken van Cinemasia 2013, het Aziatische filmfestival in De Balie (Amsterdam) en bespreken we dagelijks een van de vijf Ind(ones)ische films. Vandaag: Kita versus Korupsi.</p>
<p>Kita versus Korupsi (Wij versus Corruptie) bestaat uit 4 korte films die de strijd tegen corruptie illustreren in het dagelijkse leven in Indonesië, op het werk, in de huiselijke sfeer en op school. Deze gewaagde film kwam hard aan bij het Indonesische publiek en ontving brede belangstelling van de nationale media voor het onder de aandacht brengen van het publieke geheim: corruptie in de Indonesische samenleving.</p>
<p><strong>Corruptie stoppen</strong><br />
Net als <a title="Cinemasia 2013: Linimassa" href="http://www.indisch3.nl/cinemasia-2013-linimassa/" target="_blank">Linimassa</a> is Kita versus Korupsi (2012) al in zijn geheel <a href="http://voices-against-corruption.ning.com/video/full-movie-kita-vs-korupsi-english-subtitle" target="_blank">online</a> te bekijken. Kita versus Korupsi (wij tegen corruptie) is gemaakt met het doel corruptie tegen te gaan: “All Indonesians know corruption is harmful, but ironically it persists, if not has been increasingly practised. Indonesia needs a new strategy to fight the plague: it is time to convince every citizen, the “usual” people, to empower themselves and began to fight it pro-actively.”</p>
<p><strong>Dagelijkse corruptie</strong><br />
Doel van dit vierluik is laten zien dat corruptie niet alleen op het hoogste (politieke) niveau plaatsvindt, maar ook in het dagelijks leven. “Most of the time, corruption is discussed normatively as a big, national issue, with grand strategy and conspiracy involved. However the truth shows us corruption stems from small things we do unwittingly, trivial stuffs that we dismiss as features of everyday life, practices that eventually make us accustomed to the virus. To prevent the vicious circle, it makes perfect sense to address such issues to youth, the future leaders, via pop culture darling called movie.” (<a href="http://voices-against-corruption.ning.com/profiles/blogs/fighting-corruption-in-big-screens-and-smaller-ones?xg_source=activity" target="_blank">bron</a>)</p>
<p><strong>Discussie</strong><br />
Om de discussie over corruptie in het alledaagse leven los te maken, is Kita versus Korupsi is afgelopen jaar gratis vertoond in 17 verschillende steden, op televisiestations uitgezonden en op DVD uitgebracht. Volgens de makers is de film zelfs vertoond op het hoofdkantoor van de Indonesische politie, “one of the institutions that is usually thought as where corruption is already institutionalised” (<a href="http://voices-against-corruption.ning.com/profiles/blogs/fighting-corruption-in-big-screens-and-smaller-ones?xg_source=activity" target="_blank">bron</a>). Geïnteresseerden in een vertoning in Indonesië - inclusief discussie - kunnen contact opnemen met <a href="http://www.indonesiabersih.org/" target="_blank">Indonesia Bersih</a>/ Transparancy Interhational Indonesia.</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.indisch3.nl/kita-versus-korupsi/">Indisch3.nl</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indonesiabersih.org/info-indonesia-bersih/cinemasia-2013-kita-versus-korupsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
